Tanggamus Lampung,GemaNusantaraNews.com –
Suasana bahagia dan syukur menyelimuti Dusun Tanjung Tebat,Pekon Batu Betil, di jantung Kabupaten Tanggamus, ketika pasangan muda Surahman dan Novi menyatukan janji suci dalam ikatan pernikahan. Namun, hari yang sudah istimewa itu ternyata disimpan kejutan yang jauh lebih bermakna: sebuah persembahan budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh relung jiwa setiap tamu yang hadir.
Kejutan itu adalah sebuah pertunjukan memukau dari seni bela diri tradisional Kuntau Pagaruyung, yang dibawakan dengan penuh penghayatan oleh komunitas Laskar Kincir Angin pimpinan Kng Hadi. Pada Minggu, 30 November 2025, itu, pesta pernikahan itu menjelma menjadi sebuah galeri budaya hidup, di mana setiap gerakan sang pesilat bercerita tentang warisan leluhur.
Kuntau Pagaruyung yang ditampilkan bukan sekadar atraksi fisik belaka.Ia adalah sebuah narasi estetis yang menyajikan kekuatan budaya Semendo (Semaraknese) yang sarat makna. Setiap jurus, mulai dari sikap awal yang penuh wibawa, hingga gerakan serangan dan pertahanan yang diramu menjadi tarian yang memesona, mengandung filosofi mendalam tentang kehormatan, kebersamaan, dan keseimbangan harmonis antara tubuh, jiwa, dan alam.
Empat nama—Braza, Aswan, Arfan, dan Ican—menjadi pusat perhatian.Mereka bukanlah pemain dadakan. Di bawah bimbingan langsung Kng Hadi, mereka telah menempuh latihan bertahun-tahun, mengasah setiap otot dan memahami setiap aliran energi dalam Kuntau. Hasilnya terlihat jelas: sebuah pementasan yang menampilkan ketangkasan, keluwesan, dan—yang paling mengagumkan—kekompakan yang seolah tanpa cacat.
Langkah-langkah terencana mereka yang penuh presisi berpadu secara simbiosis dengan irama mantrawirama gendang tradisional.Kombinasi memukau ini sukses mencuri seluruh perhatian hadirin. Sorot mata takjub dan decak kagum dapat dilihat dan didengar dari para tamu, baik yang datang dari berbagai penjuru daerah seperti Lampung Selatan dan Bengkulu, maupun warga setempat yang memadati lokasi.
Di balik gemerlap panggung,kehadiran Laskar Kincir Angin mendapat apresiasi yang hangat dan mendalam. Komunitas ini dikenal tidak hanya aktif menghibur di acara-acara besar, tetapi lebih penting lagi, mereka adalah ujung tombak dalam upaya pelestarian seni bela diri tradisional yang kian terdesak oleh arus budaya modern. Setiap penampilan mereka adalah sebuah upaya nyata untuk membangkitkan kesadaran budaya.
Dampak ini terasa nyata.Banyak orang tua yang hadir tak dapat menyembunyikan kebahagiaan mereka menyaksikan anak-anak muda mereka begitu antusias mengikuti alur pertunjukan. Beberapa bahkan secara spontan menyampaikan keinginan untuk mendaftarkan putra-putri mereka agar dapat bergabung dan belajar Kuntau Pagaruyung langsung di bawah asuhan Laskar Kincir Angin, sebuah tanda bahwa benih kecintaan pada budaya telah mulai tertanam.
Di balik kesuksesan ini ada sosok Kng Hadi,seorang maestro yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk melatih dan membina Laskar Kincir Angin. Dengan semangat yang tak pernah pudar, ia menyampaikan visi besarnya. “Setiap gerakan Kuntau yang kita tunjukkan adalah cerminan jiwa bangsa kita yang kuat dan penuh makna. Target kita ke depan, seni ini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi harus bisa menjadi duta budaya yang membawa nama Tanggamus ke kancah internasional,” ujarnya penuh keyakinan.
Pasangan pengantin,Surahman dan Novi, menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus. Novi, dengan senyum yang merekah bahagia, berbagi kesan, “Kami sama sekali tidak menyangka bahwa pertunjukan Kuntau akan membawa dampak yang begitu luar biasa dan mendalam. Ini lebih dari sekadar hiburan; ini adalah sebuah hadiah budaya yang paling berharga bagi kami berdua dan untuk semua tamu yang kami cintai.”
Kesan positif juga mengalir dari tamu-tamu yang berasal dari luar Tanggamus.Bagi mereka, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah ‘penemuan’. Mereka mengakui bahwa Kuntau Pagaruyung telah membuka wawasan baru mereka tentang kekayaan dan kedalaman budaya lokal Tanggamus yang selama ini mungkin kurang terekspos dan dikenal oleh khalayak luas.
Pertunjukan ditutup dengan sebuah apoteosis—sebuah klimaks yang sempurna.Tepuk tangan meriah yang bergemuruh dan berlangsung lama menggema, mengalir dari setiap penjuru, sebagai bentuk apresiasi tertinggi kepada para pesilat dan Kng Hadi. Suasana pun berlanjut menjadi semakin cair dan akrab, dengan para tamu yang antusias mengantri untuk berfoto bersama para pesilat dan tentunya, dengan pasangan pengantin yang berbahagia.
Pernikahan Surahman dan Novi pada hari itu telah menjadi bukti nyata yang tak terbantahkan.Budaya tradisional, dengan sentuhan dedikasi dan kreativitas yang tepat, tidak hanya mampu bertahan atau sekadar menjadi pajangan. Ia dapat hidup, bernapas, dan menjadi jiwa yang memeriahkan setiap detil kehidupan masyarakat modern, terlebih dalam momen-momen spesial yang dihargai dan dirayakan oleh semua orang, mengukir kenangan yang takkan pernah terlupakan.(gnn – Putri).












