GemaNusantaraNews.com,Musi Rawas – Puluhan aktivis dan jurnalis yang tergabung dalam aliansi LSM Jurnalis Bersatu menggelar aksi damai di depan Mapolres Musi Rawas, Sumatera Selatan, pada Kamis (15/5/2025). Aksi ini dipimpin langsung oleh Ketua DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWO.I) Kabupaten Musi Rawas, Helyansah, HE, atau yang akrab disapa Bang Herly, bersama Ketua LSM Sancik, SP. Mereka datang dengan satu tujuan: menuntut keadilan dan penegakan hukum secara transparan atas dugaan praktik suap menyuap yang melibatkan oknum Kepala Desa Ngadirejo berinisial Y dan seorang oknum dari lembaga swadaya masyarakat.
Aksi damai tersebut menjadi perhatian publik karena digelar secara besar-besaran dengan orasi lantang dari para aktivis dan jurnalis. Mereka menyuarakan kekecewaan terhadap lambannya penanganan hukum atas dugaan suap dan penyimpangan anggaran Dana Desa (DD) serta Alokasi Dana Desa (ADD) oleh oknum kepala desa. Dalam orasinya, Bang Herly menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, tetapi bentuk kontrol sosial dan kepedulian terhadap penegakan hukum yang adil dan transparan di Kabupaten Musi Rawas.
Ketegangan sempat terjadi saat massa pendemo memblokade Jalan Lintas Sumatera yang berada di depan Mapolres dengan cara duduk dan berbaring di tengah jalan. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap pihak Polres Musi Rawas yang dinilai enggan menemui massa. Akibatnya, arus lalu lintas sempat dialihkan satu jalur oleh Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Musi Rawas guna mencegah kemacetan dan menjaga ketertiban umum.
Situasi memanas berhasil dikendalikan setelah Wakapolres Musi Rawas, Kompol Hendrik, turun langsung menemui massa. Ia memimpin jalannya pengamanan bersama Kabag Ops, Kasat Reskrim, dan Kasat Intelkam Polres Musi Rawas. Melalui pendekatan persuasif dan komunikasi terbuka, Wakapolres berhasil membujuk massa agar menghentikan blokade jalan dan bersedia masuk ke Mapolres untuk melakukan mediasi secara damai.
Dalam pertemuan mediasi tersebut, Bang Herly menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Polres Musi Rawas. Di antaranya adalah meminta kepolisian mengkaji ulang kasus dugaan pemerasan yang menjerat oknum LSM, mengusut secara tuntas dugaan suap antara Kades Y dan oknum LSM, serta memproses dan memeriksa Kades Y atas dugaan korupsi Dana Desa dan ADD. Ia menekankan pentingnya transparansi dan profesionalitas penegakan hukum agar tidak terjadi tebang pilih dalam proses penyelidikan.
Sementara itu, Sancik, SP selaku perwakilan dari LSM, juga menambahkan bahwa pihaknya memiliki bukti dan data kuat terkait praktik suap dan penyimpangan anggaran oleh Kades Ngadirejo. Ia menilai sudah saatnya aparat penegak hukum mengambil langkah tegas agar tidak menjadi preseden buruk bagi kepala desa lain di Musi Rawas. “Kami akan terus kawal kasus ini sampai tuntas. Tidak boleh ada yang kebal hukum,” tegas Sancik.
Menanggapi tuntutan tersebut, Wakapolres Kompol Hendrik menyatakan bahwa pihaknya siap menerima aspirasi dari aliansi LSM Jurnalis Bersatu. Ia menyampaikan bahwa Polres telah membentuk tim khusus untuk menyelidiki dugaan suap dan korupsi yang dilaporkan. “Kami terbuka terhadap kritik dan masukan, namun semua proses harus mengikuti mekanisme hukum yang berlaku. Kami minta semua pihak bersabar dan menyerahkan prosesnya kepada tim yang sudah dibentuk,” ujar Hendrik.
Aksi damai yang sempat memanas itu akhirnya berakhir dengan kondusif. Para pendemo membubarkan diri setelah dialog berlangsung selama lebih dari satu jam. Mereka berjanji akan terus mengawal kasus ini hingga pihak kepolisian memberikan kejelasan dan tindakan hukum yang adil terhadap oknum-oknum yang terlibat. Rencana aksi lanjutan pun sudah disiapkan jika tuntutan mereka tidak ditanggapi secara serius oleh pihak berwenang.
(GNN – YAN)












