GemaNusantaraNews.com,Lahat – Pembangunan irigasi persawahan di Desa Tanjung Tebat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, yang dikerjakan melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) tahun anggaran 2024, diduga tidak sesuai dengan standar teknis. Warga mengeluhkan kualitas pekerjaan yang rendah, karena hanya dalam waktu lima hari setelah selesai dibangun pada Desember 2024, siring irigasi tersebut sudah mengalami kerusakan parah dan roboh.
Siring yang seharusnya berfungsi untuk mengalirkan air ke sawah secara teratur ini dibangun oleh Pelaksana Kegiatan P3A Tebat Makmur. Namun, berdasarkan keterangan warga, pembangunan dilakukan tanpa galian pondasi yang memadai, tanpa pembesian, serta tanpa pemasangan skor tengah sebagai penguat siring. Akibatnya, konstruksi tidak memiliki ketahanan yang cukup, terutama saat aliran air deras di musim hujan.
Seorang warga bernama Bimbo mengungkapkan kekecewaannya terhadap proyek ini. Menurutnya, para petani di Desa Tanjung Tebat mengharapkan bangunan irigasi yang kokoh dan tahan lama, bukan sekadar dibuat asal jadi. Ia menyayangkan kondisi siring yang sudah hancur meskipun baru beberapa hari selesai dibangun. “Kami berharap irigasi ini benar-benar bermanfaat bagi petani, bukan malah menjadi proyek yang cepat rusak,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh Erwan, pemilik sawah tempat pembangunan irigasi tersebut. Ia mengaku telah membantu menggali siring sedalam 60 cm secara sukarela agar bangunan lebih kokoh. Namun, saat proyek berjalan, ia melihat langsung bahwa pembesian dan skor tengah penguat tidak dipasang. Ketika ia menegur pekerja, mereka hanya menjawab bahwa siring sudah cukup kuat. Kenyataannya, hanya dalam waktu kurang dari seminggu, bagian siring dekat sawahnya sudah roboh.
Selain kerusakan pada siring utama, Erwan juga menyebut bahwa plat duicker yang dibangun dalam proyek ini sudah ambruk. Plat duicker tersebut seharusnya berfungsi sebagai saluran air bawah jalan, tetapi diduga dibangun tanpa pembesian yang memadai. Material yang digunakan dalam proyek ini juga dipertanyakan kualitasnya, karena pekerja hanya menggunakan campuran sirtu, pasir, dan batu tanpa penguat yang cukup.
Warga telah melaporkan kondisi ini kepada pihak pelaksana proyek, namun hingga pertengahan Februari 2025, belum ada tanggapan atau tindakan perbaikan yang dilakukan. Dugaan bahwa proyek ini dibangun asal-asalan semakin kuat, mengingat pengerjaannya hanya memakan waktu lima hari dan hasilnya tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang seharusnya. Hal ini berpotensi merugikan negara hingga ratusan juta rupiah.
Masyarakat Desa Tanjung Tebat berharap pihak terkait, terutama pemerintah daerah dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), segera turun tangan untuk melakukan investigasi. Jika terbukti ada penyimpangan dalam pelaksanaan proyek ini, pihak yang bertanggung jawab harus diberikan sanksi tegas. Petani sangat membutuhkan infrastruktur irigasi yang berkualitas untuk meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan mereka, bukan sekadar proyek yang dibangun asal jadi tanpa mempertimbangkan manfaat jangka panjang.
(GNN – M.SANGKUT SH)












