Kebocoran Pipa Pertamina Cemari Lahan dan Rusak Lingkungan!

Muara Enim,Sumsel,Gemanusantaranews.com
Kegelisahan dan kepiluan menyelimuti warga Desa Baturaja,Kabupaten Muara Enim, menyusul insiden kebocoran pipa milik PT Pertamina yang mencemari lingkungan. Minyak mentah yang mengalir dari pipa yang bocor tersebut telah merusak lahan dan mengancam mata pencaharian masyarakat setempat. Peristiwa yang terjadi pada Kamis (18/9/2025) itu menimbulkan potensi bahaya serius yang hingga kini masih belum ditangani secara tuntas.

Lokasi kebocoran pipa milik Pertamina Adra Field ini sangat strategis dan justru memperbesar tingkat risikonya.Pipa tersebut bocor tepat di pinggir jalan umum di wilayah Desa Baturaja, Kecamatan Empat Petulai Dangku. Yang lebih mencemaskan lagi, titik kebocoran ini berada tidak jauh dari Stasiun Kompresor Gas (SKG) milik Pertamina, sebuah fasilitas yang menyimpan gas bertekanan tinggi dan berpotensi bahaya jika terkena imbas dari insiden ini.

Dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sangat nyata dan memprihatinkan.Minyak mentah (crude oil) yang terus menyembur dari celah pipa yang bocor telah menggenangi dan mencemari area sekitarnya. Yang paling menderita adalah para pemilik kebun di sekitar lokasi, yang lahannya kini terkontaminasi limbah minyak. Pencemaran ini tidak hanya merusak tanaman dalam jangka pendek tetapi juga dapat menurunkan kesuburan tanah secara permanen, mengancam hasil panen dan pendapatan warga untuk waktu yang lama.

Baca juga :  KemenPAN-RB Memberikan Penghargaan Kepada Biro SDM Polda Sumsel.

Merespon insiden yang meresahkan ini,Junaidi, selaku Kepala Desa (Kades) Baturaja, secara tegas mendesak pihak PT Pertamina untuk segera bertindak. Ia menyatakan bahwa kejadian ini telah menimbulkan kerugian material yang tidak sedikit bagi masyarakat desa yang menggantungkan hidupnya dari hasil kebun. Kades Junaidi menegaskan bahwa tanggung jawab perusahaan mutlak diperlukan untuk memulihkan kondisi lingkungan yang telah tercemar.

“Atas nama pemerintah desa dan masyarakat,saya meminta dengan sangat kepada pihak Pertamina untuk segera menindaklanjuti kejadian ini dan melakukan perbaikan,” ujar Junaidi dengan nada prihatin pada Jumat (19/9/2025). Ia menambahkan harapan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan, “Untuk kedepan agar jangan ade lagi kebocoran seperti ini karne sangat merugikan masyarakat desa kite,” tuturnya dengan penuh harap.

Baca juga :  Benteng Langkat: Sat Samapta Gelar Patroli Maraton 12 Jam Antisipasi Premanisme dan Kejahatan 3C

Suasana kekhawatiran masih jelas terasa di kalangan masyarakat.Selain khawatir akan dampak jangka panjang pada lahan pertanian mereka, warga juga diliputi kecemasan akan potensi bahaya lain yang mengintai, mengingat lokasi kebocoran yang berdekatan dengan instalasi gas. Mereka mengharapkan penanganan yang cepat dan transparan dari perusahaan BUMN tersebut untuk menjamin keselamatan dan memulihkan lingkungan mereka.

Sayangnya,hingga berita ini diturunkan pada Jumat sore, respon dari PT Pertamina masih dinantikan. Awak media yang mencoba mengonfirmasi kejadian dan penyebab kebocoran pipa tersebut kepada pihak PT Pertamina Field Adira melalui aplikasi Whatsapp belum memperoleh jawaban sama sekali. Sikap diam dari perusahaan ini semakin menambah ketidakpastian dan kecemasan warga.

Baca juga :  Solusi di Tengah Jalan Rusak: KPA Desak Pembangunan Pelabuhan CPO untuk Selamatkan Infrastruktur dan Tingkatkan Harga TBS

Insiden kebocoran pipa ini kembali mempertanyakan kesiapan dan kecepatan tanggap Pertamina dalam menangani darurat operasional yang berdampak langsung pada masyarakat dan lingkungan.Masyarakat berharap tidak ada penundaan lagi dan Pertamina segera turun tangan untuk mengatasi krisis lingkungan ini sebelum dampaknya semakin meluas dan parah.

Sumber: DPW IWO Indonesia.
(GNN – SAKRIN).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *