Pesawaran Lampung,GemaNusantaraNews.com –
Di jantung Desa Hanau Berak,Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung, sebuah struktur yang seharusnya menjadi penghubung nyawa justru berubah menjadi jebakan maut yang mengintai setiap saat. Jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) tersebut telah lama berubah menjadi simbol pengabaian negara terhadap warganya. Setiap hari, ratusan penduduk desa terpaksa mempertaruhkan nyawa mereka di atas papan-papan kayu yang lapuk dan tali-tali baja yang keropos, sebuah ironi pahit di era pembangunan yang digaungkan pemerintah.
Berdasarkan penuturan Mansur(50), seorang tokoh masyarakat setempat yang telah puluhan tahun menetap di desa tersebut, jembatan gantung ini sebenarnya dibangun sekitar dua tahun lalu. Namun, sejak peresmiannya, tidak pernah ada upaya perawatan atau pemeliharaan yang berarti dari pihak berwenang. “Kami merasa seperti dianaktirikan. Jembatan yang seharusnya menjadi urat nadi penghubung, justru dibiarkan sekarat tanpa perhatian,” ujar Mansur dengan nada geram yang tertahan.
Kondisi nyata di lapangan jauh lebih memprihatinkan daripada sekadar laporan.Papan-papan kayu yang menjadi lantai jembatan telah berubah warna menjadi keabu-abuan, lapuk dimakan cuaca dan usia. Retakan-retakan lebar menghiasi hampir seluruh permukaannya, sementara beberapa bagian bahkan memiliki lubang yang cukup besar untuk menjebak kaki orang dewasa. Setiap jengkal papan yang terinjak mengeluarkan bunyi mengerikan, seolah memprotes beban yang harus ditanggungnya.
Sistem penopang jembatan tidak kalah mengkhawatirkannya.Tali-tali baja yang seharusnya menjadi penyangga utama kini dipenuhi karat yang menggerogoti kekuatannya. Kawat-kawat baja yang putus menjuntai tak berdaya, sementara sambungan-sambungan di beberapa titik terlihat longgar dan tidak stabil. Setiap kali angin berhembus kencang, jembatan itu bergoyang tak terkendali, menambah deretan kekhawatiran warga yang sedang melintas.
Bagian paling kritis dari struktur jembatan ini justru terletak pada fondasinya.Di sisi dekat area pemakaman, beton penyangga jembatan menunjukkan retakan yang dalam dan melebar. Sebagian struktur beton sudah hancur berantakan, tergerus oleh derasnya air hujan selama bertahun-tahun. Fondasi yang seharusnya menjadi pondasi kokoh justru menjadi titik lemah yang mengancam keseluruhan struktur jembatan.
Bagi warga seperti Siti(45), melintasi jembatan ini adalah ritual menakutkan yang harus dijalani setiap kali ada keluarga atau tetangga yang meninggal. “Saya lebih takut melewati jembatan ini daripada menghadapi jenazah. Setiap langkah seperti berjalan di atas awang-awang, tidak tahu kapan papan di bawah kaki akan ambrol,” tuturnya dengan suara bergetar.
Bahkan bagi warga yang masih berusia muda sekalipun,melintasi jembatan ini menjadi pengalaman traumatis. Andi (17), seorang pelajar SMA, mengaku selalu menahan napas dan berdoa dalam hati setiap kali harus melewati jembatan tersebut. “Saya dan teman-teman memilih berjalan satu persatu dengan jarak yang renggang. Kami takut jika berjalan berbarengan, beban akan bertambah dan jembatan tidak kuat menahannya,” ceritanya.
Yang lebih memprihatinkan,jembatan ini bukan hanya digunakan untuk keperluan mengantar jenazah, tetapi juga menjadi akses utama bagi anak-anak sekolah, ibu-ibu yang pergi ke pasar, dan petani yang mengolah lahan di seberang jembatan. Artinya, risiko kecelakaan mengintai setiap elemen masyarakat, tanpa memandang usia atau status sosial.
Mansur mengungkapkan bahwa warga telah berulang kali menyampaikan keluhan dan permohonan perbaikan kepada pemerintah daerah.”Kami sudah mengirim surat, bertemu dengan perangkat desa, bahkan melakukan demonstrasi damai. Namun, semua usaha kami seolah hilang ditelan angin. Janji perbaikan hanya menjadi jargon politik yang tidak pernah terwujud,” katanya dengan nada putus asa.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang(PUPR) Kabupaten Pesawaran, ketika dikonfirmasi, mengaku telah mengetahui kondisi jembatan tersebut. Namun, mereka beralasan bahwa anggaran untuk perbaikan infrastruktur sedang terbatas dan harus dialokasikan untuk proyek-proyek yang dianggap lebih prioritas. “Kami akan berusaha memasukkannya dalam APBD perubahan tahun depan,” kata seorang pejabat yang tidak ingin disebutkan namanya.
Sementara pemerintah berdebat tentang anggaran,warga Hanau Berak terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Setiap hari mereka dihadapkan pada pilihan sulit: mengisolasi diri atau mempertaruhkan nyawa. “Kami bukan meminta kemewahan, hanya meminta hak dasar untuk keselamatan dan akses yang layak. Apakah itu terlalu muluk untuk diminta?” tanya Mansur retoris.
Nasib warga Hanau Berak kini menggantung pada selembar papan lapuk dan seutas tali berkarat.Mereka tidak tahu kapan tragedi akan terjadi, tetapi mereka yakin bahwa jika satu nyawa melayang karena kelalaian ini, itu akan menjadi aib besar bagi pemerintah daerah. Seruan mereka sederhana namun mendesak: “Selamatkan kami sebelum jembatan ini menjadi kuburan massal yang membisu.”(gnn – Putri/Team).












