GemaNusantaraNews.com,Jambi –
Ketegangan melanda Apriandi TJ, seorang suami yang juga keluarga wartawan di Jambi, ketika rumah sakit meminta tambahan dua kantong darah untuk istrinya yang sedang dirawat. Padahal, ia sudah mengatur tiga pendonor sebelumnya. Dengan perasaan was-was, ia segera melangkah menuju KOREM 042/Garuda Putih TNI AD di Telanaipura, Jambi, sekitar pukul 10.30 WIB, berharap ada tangan-tangan yang mau membantu.
Istri Apriandi, seorang wartawan lokal, membutuhkan transfusi darah segera untuk menunjang pengobatannya. Namun, permintaan mendadak dari pihak rumah sakit akan tambahan dua kantong darah membuatnya kelabakan. “Saya sempat terkejut karena sudah mengatur tiga pendonor, tapi tiba-tiba diminta tambah lagi. Waktu itu, saya benar-benar bingung harus cari bantuan ke mana,” ujar Apriandi dengan suara bergetar.
Sesampainya di KOREM 042, Apriandi langsung bertemu dengan Bimantara Wicaksana, petugas piket TNI AD saat itu. Tanpa banyak tanya, Bimantara segera menggerakkan rekan-rekannya, termasuk Fahrul, untuk memenuhi kebutuhan darah tersebut. “Kami tidak bisa tinggal diam ketika ada warga yang membutuhkan pertolongan mendesak seperti ini,” tegas Bimantara.
Tak disangka, bantuan juga datang dari Banu Rahmatullah, seorang mahasiswa semester delapan Universitas Adiwangsa Jambi yang aktif di organisasi KSR PMI. Mendengar kabar darurat darah ini, Banu segera menyingsingkan lengan baju untuk mendonorkan darahnya. “Ini adalah panggilan kemanusiaan. Saya senang bisa membantu,” kata Banu dengan wajah berseri.
Dengan koordinasi yang cepat, ketiga pihak—Apriandi, TNI AD, dan relawan PMI—berhasil memenuhi kebutuhan darah tambahan tersebut. Proses pendonoran berjalan lancar berkat kerjasama yang solid. “Alhamdulillah, semua berjalan dengan baik. Saya sangat berterima kasih kepada semua yang terlibat,” ucap Apriandi lega.
Sementara itu, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa permintaan tambahan darah tersebut didasarkan pada kondisi medis pasien yang memerlukan cadangan lebih. “Kadang-kadang, situasi pasien bisa berubah dengan cepat, sehingga kami perlu antisipasi,” jelas seorang perawat yang enggan disebutkan namanya.
Kisah ini mengingatkan kita akan pentingnya kesigapan dan solidaritas dalam situasi darurat. Kolaborasi antara TNI AD, relawan PMI, dan masyarakat umum seperti ini patut diapresiasi. “Ini adalah bukti bahwa kita bisa mengatasi masalah besar ketika semua pihak bersatu,” tambah Banu.
Dengan terselesaikannya kebutuhan darah istri Apriandi, keluarga ini kini bisa bernapas lega. Namun, cerita ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu siap membantu sesama, karena siapa tahu suatu saat kita juga akan membutuhkan uluran tangan orang lain. “Terima kasih kepada semua pahlawan tanpa tanda jasa ini,” tutup Apriandi dengan mata berkaca-kaca.
(GNN – APRIANDI)












